Latest News

Tampilkan postingan dengan label Korupsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korupsi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Januari 2016

Johan Budi: Korupsi Lebih Berbahaya daripada Terorisme

Johan Budi: Korupsi Lebih Berbahaya daripada Terorisme


 Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Johan Budi SP berpendapat, korupsi lebih berbahaya dibandingkan terorisme. Ia mengungkapkan, banyak negara yang hancur akibat korupsi.  

"Kalau teroris merusak satu titik, sementara korupsi menghancurkan tidak hanya satu generasi, tapi juga generasi-generasi berikutnya." ujar Johan, dalam diskusi di Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta, Kamis (1/8/2013).

"Kerajaan Majapahit yang begitu besar di masa lalu juga hancur karena korupsi," tambah Johan. 

Dalam kesempatan yang sama, Pakar Hukum Universitas Indonesia Gandjar Laksamana menegaskan bahwa kejahatan korupsi termasuk dalam kejahatan luar biasa (extraordinary crime). 

"Meski Indonesia belum meratifikasi Statuta Roma, namun jika kita melihat UU yang berkaitan dengan korupsi yang disahkan oleh DPR bahwa korupsi itu perlu penanganan tidak biasa. Hal tersebut sudah memperlihatkan bahwa korupsi berbeda dengan kejahatan biasa," katanya.
Penulis: Rahmat Fiansyah
Editor: Inggried Dwi Wedhaswary
http://nasional.kompas.com/read/2013/08/01/1443209/Johan.Budi.Korupsi.Lebih.Berbahaya.daripada.Terorisme

Sabtu, 21 November 2015

Sabam Sirait: Pemburu Rente Kasus Freeport Harus Ditembak Mati

Sabam Sirait di kompleks Istana Kepresidenan, 13 Agustus 2015.

Sabam Sirait: Pemburu Rente Kasus Freeport Harus Ditembak Mati


Politikus Senior PDI Perjuangan (PDIP), Sabam Sirait, menyarankan agar para pemburu rente yang berusaha menggadaikan kedaulatan negara dan sumber daya alam nasional kepada pihak asing agar ditembak mati saja.
Hal itu disampaikannya ketika ditanyai tanggapannya soal kontrak Freeport di Indonesia, serta skandal yang belakangan muncul. Yakni ketika Ketua DPR RI Setya Novanto dan Pengusaha Reza Chalid berusaha meminta jatah saham ke Freeport mengatasnamakan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla.
"Tembak mati itu orang-orang. Kok jadi malah bukan meninjau kerja sama dengan Freeport, tapi berusaha mengolah untuk kepentingan sendiri?" tegas Sabam, Jumat (20/11).
Sabam mengaku heran dengan orang-orang demikian yang selalu tak bosan negaranya ditindas. Padahal, sudah jelas negara pernah dijajah Belanda dan Jepang. Ditegaskan oleh Sabam, rakyat Indonesia sudah tidak bodoh lagi dan pasti tak mau dijajah lagi lewat sektor ekonomi.
"Banyak orang bodoh di kalangan pimpinan, itu betul. Tapi rakyat Indonesia tak bodoh terus, dan jangan mau dibodoh-bodohi terus. Mentang-mentang orang Indonesia baik, bukan berarti bodoh. Yang agak bodoh cuma elite-elite itu saja," ujarnya.
Sabam juga menyerukan agar semua elemen bangsa bersatu dan tak takut menghadapi hegemoni negara dan pengusaha besar yang ingin mengeruk kekayaan alam Indonesia.
"Saya kira kita sudah mengakhiri kekuasaan ekonomi negara lain di Aceh. Kita harus lakukan itu juga di Papua. Jangan lagi beri kekuasaan ekonomi mutlak seperti itu di pulau-pulau lain di Indonesia," tandasnya.
Markus Junianto Sihaloho/FER
BeritaSatu.com

Rabu, 17 Desember 2014

Korupsi,Korupsi,Korupsi,Korupsi Di Mana-mana !














Mata Najwa:

Karena Korupsi sudah merajalela kemana-mana
maka perlawanan juga harus di mana-mana.

Semua harus ikut aktif memberantas
itulah jurus pamungkas
agar korupsi bisa ditumpas !

Kita tak bisa hanya sekedar teriak
Sudah saatnya harus ikut bergerak !

www.perangikorupsi.blogspot.com

Selasa, 19 Agustus 2014

Eks Anak Buah Nazaruddin Akui Beri Uang 25.000 Dollar AS ke Fahri Hamzah

 

Eks Anak Buah Nazaruddin Akui Beri Uang 25.000 Dollar AS ke Fahri Hamzah

 

JAKARTA,Mantan anak buah mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, Yulianis, mengaku pernah memberikan uang dalam amplop sebesar 25.000 dollar AS kepada politikus Partai Keadilan Sejahtera, Fahri Hamzah. Pengeluaran uang untuk Fahri tersebut dicatat Yulianis sebagai uang muka pembelian mobil sesuai dengan arahan Nazaruddin.
"Catat saja itu DP pembelian mobil, tidak terkait dengan proyek," kata Yulianis menirukan perintah Nazaruddin dalam persidangan kasus dugaan korupsi Hambalang dengan terdakwa mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (18/8/2014).
Awalnya Yulianis ditanya oleh pengacara Anas yang bernama Andika Honggowongso. Dia diminta menjelaskan mengenai inisial FAH dalam dokumen pengambilan kas. Yulianis menjawab bahwa dia pernah dipanggil Nazaruddin ke lantai tujuh Tower Kemang di Mampang, Jakarta Selatan, untuk membawa uang 25.000 dollar AS. Setelah sampai di lantai tujuh, Yulianis mengaku melihat Fahri Hamzah.
"Dulu saya tidak tahu dia itu siapa, tetapi setelah melihat di TV, saya tahu itu Pak Fahri yang dari PKS," kata Yulianis.
Dia mengaku meletakkan uang 25.000 dollar AS yang dibungkus amplop di meja di depan Fahri. Saat itu, kata Yulianis, Fahri tidak bicara apa-apa dan hanya senyum ketika diminta untuk tanda tangan sebagai bukti penerimaan. Akhirnya, Nazaruddin-lah yang tanda tangan. "Sama Pak Nazar itu ditandatangani cuma dicoret-coret saja," ujar Yulianis.
Source : nasional.kompas.com
http://nasional.kompas.com/read/2014/08/18/19402971/Eks.Anak.Buah.Nazaruddin.Akui.Beri.Uang.25.000.Dollar.AS.ke.Fahri.Hamzah